Tanpa membuang waktu, Lynx, Leena, dan yang lainnya segera mengikuti pria tua tersebut, berjalan cepat menuju lokasi yang disebutkan bocah itu.

Setibanya di depan pagar rumah yang dimaksud, anak tersebut menunjuk lubang kecil di samping pagar tempat dia biasa menyusup bersama temannya, pemilik rumah ini.

Lynx menggunakan Mata Langitnya untuk memeriksa keadaan dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.

"Kakek, terima kasih sudah mengantar kami. Kalian bisa menunggu di rumah makan sekitar sini. Ini untuk kalian," ujar Lynx sambil menyerahkan sekantung koin perak kepada pria tua itu sebagai tanda terima kasih.

Setelah kakek dan cucunya pergi, Lynx segera melompat melewati pagar, diikuti oleh Leena dan yang lainnya.

"Lynx, apa yang kamu lihat? Kenapa ekspresimu berubah sekilas tadi?" tanya Jelita yang sejak tadi diam-diam memperhatikan wajah Lynx.

"Pemilik rumah ini sudah terbunuh. Mereka semua ada di dalam pondok sebelah sana," jawab Lynx, menunjuk rumah kecil di samping bangunan utama. Dengan Mata Langitnya, ia melihat jasad beberapa pria, wanita, dan anak-anak yang tergeletak tanpa nyawa.

Kedua tangannya mengepal erat, kemarahan membara dalam dadanya. "Wanita itu… dia membunuh tanpa memandang usia," gumamnya dengan suara bergetar.

"Kepala Suku, lihat ini!" seru Arkha yang sedang memeriksa keadaan di sekitar. Ia menarik secarik surat yang tertancap di dinding luar rumah.

Lynx membuka dan membaca isi surat tersebut dengan suara tegas, "Lynx, semuanya. Aku kembali ke duniaku. Terima kasih untuk semuanya. — Lala"

Leena dan Jelita menahan napas. Mata mereka mulai berkaca-kaca. Suku Surya dan Rira belum ditemukan, Darek dan Kael telah tewas, dan kini Lala pergi begitu saja.

"Lynx, kita tidak bisa membiarkan ini terjadi. Mereka akan menyiksa Lala untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan," ujar Leena tiba-tiba, suaranya dipenuhi kemarahan.

"Kepala Suku, tidak adakah cara untuk mengejarnya?" tanya Arkha penuh harap.

Lynx menggelengkan kepalanya. "Kalian harus paham, dunia ini sendiri sangat luas. Selain dunia ini, mungkin masih ada kehidupan lain di langit sana, begitu juga dimensi. Sangat banyak dunia lain di dimensi berbeda. Tanpa mengetahui titik lokasi yang tepat, kita hanya akan muncul di kehampaan. Bahkan jika salah, kita bisa berakhir di ruang bernama black hole, di mana kita tidak bisa keluar selamanya."

Melihat Narendra dan Jelita terlihat kebingungan, Leena ikut menjelaskan, "Ruang dimensi ibarat banyak rumah di sekitar kita, dan kita tidak bisa sembarangan memasukinya tanpa menghadapi masalah. Kita harus mengetahui terlebih dahulu di mana rumah Lala. Kita tidak bisa asal masuk dan mencari, karena setiap rumah sangat luas."

Mendengar penjelasan Leena, mereka akhirnya memahami kesulitan yang dihadapi Lynx.

"Lalu bagaimana sekarang? Apa tidak ada yang bisa kita lakukan?" Narendra menendang sebuah patung hingga hancur, lalu jatuh terduduk, merasa putus asa.

Lynx menatap pecahan patung di kakinya, lalu tiba-tiba matanya berbinar. Ia segera teringat pada sebuah benda yang memiliki bentuk serupa dengan pecahan itu.

"Kerja bagus, Narendra," puji Lynx dengan gembira.

Semua memandangnya dengan heran, mengira Lynx sudah terlalu lelah sehingga mulai bersikap aneh. Namun, mereka segera mendekat saat melihat Lynx mengeluarkan sebuah benda kecil dari cincin penyimpanannya.

"Lynx, jangan-jangan ini..." Leena menatap benda di tangan Lynx dengan mata berbinar.

"Apa itu?" tanya Arkha dan Narendra bersamaan.

Berbeda dengan Jelita yang sudah pernah melihatnya, bahkan ikut bersama mereka saat Lala mencoba mengaktifkannya. Sebuah awal dari malapetaka yang menimpa mereka.

"Bukankah Lala bilang kemungkinan energinya, yang disebut baterai, sudah habis?" kata Jelita ragu.

"Hanya ini harapan kita satu-satunya. Mereka mengetahui keberadaan kita karena alat ini mengirimkan sinyal ke dunia mereka. Asalkan aku bisa membuatnya mengirim sinyal lagi dan mengikuti energi yang terpancar, kita akan mengetahui di mana dunia mereka," kata Lynx dengan bersemangat.

Namun tiba-tiba ekspresi Lynx berubah. Wajahnya yang penuh harapan kembali diliputi frustrasi.

"Kenapa, Lynx?" tanya Leena khawatir.

Lynx menghela napas. "Untuk mengaktifkannya, kita memerlukan kunci berbentuk cincin, dan Lala yang membawanya."

Leena, Jelita, dan Narendra terdiam. Harapan mereka satu-satunya seolah menghilang begitu saja.

Namun, tiba-tiba Arkha berkata ragu, "Apakah cincin ini yang kau maksud, Kepala Suku?"

Ia mengeluarkan sebuah cincin dari kantung penyimpanan.

Mata Lynx membelalak. "Betul! Ini dia! Bagaimana bisa cincin ini ada padamu?"

"Mungkin Lala sudah memiliki firasat. Dia memberikannya kepadaku tanpa banyak penjelasan, hanya memintaku untuk menyimpannya," jawab Arkha lirih.

Tidak membuang waktu, Lynx segera membentuk formasi teleportasi. "Kita tidak bisa melakukannya di sini. Jika ada yang merasakan riak energi yang kutimbulkan, akan terjadi kekacauan," katanya dengan suara tegas.

Mereka semua saling bertukar pandang, bingung dengan ucapan Lynx. Dalam hati, mereka berpikir—bukankah kekuatan sejati Lynx tersembunyi dari persepsi orang lain? Bahkan jika kekuatan itu menyebabkan dunia bergetar, tidak ada yang bisa memastikan bahwa Lynx adalah sumbernya.

Namun, begitu mereka tiba di sebuah hutan terpencil dan menyaksikan kekuatan yang Lynx maksud, mereka langsung mengerti. Saat Lynx membuka segel dalam tubuhnya selama beberapa detik, dunia bergetar sejenak, udara di sekitar mereka berdesir seolah merespons kehadiran energi yang mendalam. Tubuh Lynx langsung menancarkan energi hitam gelap seolah tubuhnya terbakar api berwarna hitam.

"Lynx... energi iblis itu masih ada di tubuhmu?" tanya Leena dengan nada khawatir. Ia ingat betul bagaimana Lynx hampir kehilangan nyawanya setelah menyerap energi tersebut demi menyelamatkan Kota Huoling.

"Energi iblis? Bagaimana bisa?" Arkha dan Narendra menatap Lynx dengan mata terbelalak. Mereka pernah mendapat informasi mengenai ciri-ciri energi iblis saat menjalankan misi, dan kini mereka bisa merasakannya dengan jelas dari tubuh Lynx.

Lynx menatap mereka sekilas sebelum berkata, "Jangan khawatir. Energi ini telah sepenuhnya menjadi bagian dari kekuatanku. Untuk melacak sinyal dari alat ini, aku membutuhkan sumber energi yang jauh lebih besar. Jika aku menggunakan energi sakti, dunia ini pasti tidak akan mampu menahannya."

Mendengar itu, Narendra, Arkha, dan Leena menatap Lynx dengan perasaan campur aduk. Mereka tahu bahwa selama ini Lynx jarang menggunakan energi spiritual atau energi sakti miliknya dalam pertempuran. Hanya dengan kekuatan fisik biasa, ia sudah bisa menghancurkan dunia ini. Dan sekarang, mereka menyaksikan sisi lain lagi dari kekuatannya, sesuatu kekuatan yang para kultivator di dunia ini anggap mengerikan melebihi apapun yang pernah mereka bayangkan.

Sementara itu, Jelita yang tidak terlalu memahami dunia kultivasi hanya diam, memperhatikan ekspresi rekan-rekannya yang penuh ketegangan.

Arkha menoleh ke Narendra dan berbisik pelan, "Jadi itu sebabnya kepala suku tidak mau menggunakan kekuatan ini di Kota Zhurong. Jika para kultivator di sana menyadari keberadaan energi iblis, seluruh kota akan dilanda kepanikan."

Lynx menutup matanya, berkonsentrasi penuh. Apapun yang muncul dari alat ini, dia harus bisa mengikutinya dengan persepsi tajamnya. Ini mungkin satu-satunya kesempatan mereka, dan dia tidak boleh gagal.

Dengan gerakan mantap, Lynx memasukkan cincin ke dalam alat dan menekan tombol aktivasi, mengikuti langkah-langkah yang pernah dilakukan Lala. Berkat ingatannya yang luar biasa, dia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana Lala menggunakannya.

Namun, setelah beberapa saat, tidak ada reaksi apa pun dari alat tersebut.

Mereka semua menahan napas, mata penuh harapan menatap Lynx.

Tak ingin menyerah, Lynx mencoba sesuatu yang lebih berisiko. Dia mengalirkan sedikit kekuatannya ke dalam alat, berharap bisa menggantikan sumber energinya yang telah habis. Seketika, alat itu menyala, tetapi hanya sesaat sebelum akhirnya berasap dan rusak. Namun, sebelum benar-benar padam, alat tersebut berhasil mengirimkan sinyal!

Mata Lynx berkilat. Dia langsung menyelaraskan kesadarannya, mengikuti jejak sinyal yang menembus lintas dimensi sebelum menghilang entah ke mana.

Saat dia membuka matanya kembali dan menarik kembali kekuatannya, mereka semua menatapnya dengan penuh antisipasi.

Dengan nada ragu, Lynx akhirnya berkata, "Aku berhasil mengaktifkan dan mengikuti sinyalnya… tapi aku tidak yakin apakah sinyal itu sudah sampai ke tujuan. Tiba-tiba saja, jejaknya menghilang tanpa jejak."

Dia menatap alat yang kini rusak sepenuhnya, menghela napas, lalu menyimpannya kembali. "Kita tidak punya pilihan lain. Aku harus menyelidiki tempat itu dan mencari Lala."

"Aku ikut!" Serentak, semua orang mengajukan diri.

Lynx menatap mereka dengan sorot mata tegas. "Kita harus membagi tugas. Dengan Kael yang sudah tiada, tanggung jawab untuk menemukan penduduk Surya jatuh ke tangan kalian. Selain itu…" Lynx berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Aku tidak bisa menjamin keselamatan kalian di tempat itu."

Kata-katanya membuat mereka terdiam. Mereka tahu Lynx benar—penduduk Surya yang hilang masih harus ditemukan, dan seseorang harus tetap menjalankan tugas itu.

Namun, Leena melangkah maju, menatap Lynx dengan mata yang penuh tekad. "Aku ikut. Aku lebih memilih mati bersamamu daripada harus hidup di dunia ini tanpamu."

Lynx menatapnya lama, kemudian akhirnya mengangguk. "Baik."

Dia lalu beralih pada Narendra. "Kamu yang paling kuat diantara mereka. Lindungilah mereka dengan segenap kemampuanmu."

Narendra mengepalkan tinjunya, lalu tiba-tiba menarik Lynx ke dalam pelukan erat. "Siap, Guru. Aku tidak akan mengecewakanmu."

